WEBMINAR HOME SCHOOLING ANAK USIA DINI (part I), by Rumah Inspirasi (TENTANG IDE DASAR & GAGASAN)

1622003_518244888288646_1943954303_nBerawal dari join fanpage nya Komunitas Ayah Edy , saya terbawa ke Rumah Inspirasi, salah satu komunitas Home Scooling yang ada di Indonesia. samapai saat ini sih belum ada kepikiran untuk meng-HS kan anak, tapi ada ketertarikan untuk belajar & mencari tau, paling gak untuk mengambil nila-nilai nya, walaupun nanti misalnya anak-anak saya tetap bersekolah di sekolah formal.

Di bulan Maret – April ini, Rumah Inspirasi mengadakan webminar (seminar online) tentang Home Schooling pada anak usi dini. Sesi pertama di hari Rabu, tgl 12 maret 2014 kemarin. dan inilah beberapa materi yang saya rangkum.

431003_186542104792261_1093558708_nGAGASAN DASAR GERAKAN HOME SCHOOLING DI AMERIKA :

Kalau anak-anak terlalu cepat dilepaskan dari lingkungan keluarag & dititipkan di lembaga eksternal (sekolah) utk proses pendidikannya, & materi-maetri akademis terlalu cepat diberikan, maka ada biaya yg hrs dibayar dari proses itu… pada satu sisi bisa jadi terjadi percepatan dalam hal intelektualitas anak, tapi di sisi lain hal yg hrs diwaspadai adalah sisi psikologis anak.

Mrt Dr. Raymond Moore,

jika anak terlalu cepat dilepaskan dari ikatan rumah/keluarga/kasih sayang org tua, ada sebuah bom waktu psikologis, yang baru keliatan ketika anak usia remaja. Anak yg tidak merasa cukup/merasa puas dengan kasih sayang orang tuanya, maka di kemudian hari anak akan lebih rentan thd pengaruh eksternal, baik itu bullying, narkoba dll.

Oleh karena itu utk masalah2 akademis, HARUS mengunggu kesiapan anak, & LEBIH ABIK TERLAMBAT DARIPADA TERLALU CEPAT.

  • KALAU TERLAMBAT, kemapuan akademis BISA dikejar
  • KALAU TERLALU CEPAT, justru akan berpengaruh buruk, pada aspek psikologis anak.

-> Anak2 utk proses belajar yg sifatnya akademis (calistung), membutuhkan kesiapan fisik, & kesiapan otak

Gagasan dasar dari Home Schooling Usia Dini adalah, proses pengasuhan (PARENTING) yang baik, BUKAN hal-hal yg bersifat akademis. Bukan utk mencetak anak2 yg juara lomba2, punya berbagai macam keahlian/ketrampilan yg sifatnya kompetisi dll. Tujuannya adalah utk menyiapkan sebuah rentang pertumbuhan anak jangka panjang.

Yang disebut dengan ‘Golden Age’, masa-masa keemasan usia 0-5 tahun, dimana anak-anak bertumbuh secara luar biasa, disaat otak anak sedang berkembang dengan pesatnya, maka sebenaranya yang perlu dilakukan bukan menggunakan masa ini untuk melakukan hal-hal yang sifatnya akademis.

    I.            MANFAAT HOME SCHOOLING USIA DINI

Yang pasti karena, orang tua terlibat penuh & bisa memantau secara langsung perkembangan anak, perhatian org tua pasti jauh lebih baik dari lembaga eksternal apapun, sekolah,  asisten dll.

Ketika anak di asuh sendiri oleh orang tuanya, kita bisa menyiapkan sebuah fondasi jangka panjang, baik dari sisi fisik/kesehatan, maupun dari segi psikis.

Ketika anak terbiasa untuk berbicara apa saja/berpendapat, pendapatnya didengar oleh orang tuanya, terbiasa bernegosiasi, tapi bersamaan anak juga belajar untuk bisa mengontrol keinginannya .. semua  proses yang dijalani ini membuat anak bertumbuh kuat, ketika ia sudah masuk usia sekolah dia sudah lebih siap.

Dalam HS usia dini, adalah kesempatan yang baik untuk mencoba, apakah kita orang tua bisa berkomitmen, bisa mempraktekkan apa yang kita anggap ideal, orang tua & anak bisa merasa nyaman , menikmati satu sama lain. Di masa inilah kita bisa menguji, mencari pola yang paling sesuai untuk anak. Dan ketika anak menginjak usia sekolahh (6-7th), kita bisa memutuskan & mengevaluasi apakah, akan tetap meilanjutkan HS atau beralih ke sekolah formal.

Salah satu kekawatiran anak-anak HS, adalah masalah akademik, soal ijazah dll, tapi untuk ank usia dini kekawatiran seperti ini bisa dikatakan tidak ada.

II.        DUA HAL YANG MENJADI KEKAWATIRAN ORANG TUA UNTUK ANAK HS (USIA DINI)

  1. Ijazah TK
  2. Kemampuan CALISTUNG
  • Dalam undang-undang SISDIKNAS, sebenarnya di katakana bahwa masuk SD, TIDAK BOLEH mensyaratakan ijazah TK/PAUD. A
  • Anak SD syaratnya hanyalah USIA
  • PP NO. 17/2010 PASAL 69 (5), Disebutkan bahwa tidak didasarkan oleh kemampuan calistung, atau tes yang lain.
  • Jadi sebnarnya sudah jelas, jika ada sekolah-sekolah yang mensyaratkan adanya ijasah TK dan tes calistung, sekolah tersebut melanggar undang-undang.

III.    TANTANGAN HOME SHOOLING BAGI ORANG TUA.

  • Mengembalikan kepercayaan diri kita orang tua, bagaimana mendidik anak-anak kita, merasa tidak percaya diri untuk menjadi orang tua yang terbaik. –> Padahal sebenarnya kita semua punya potensi untuk itu, karna sebenarnya kita punya modal besar yaitu cinta, kasih saying, perhatian. Kesediaan kita belajar & berkorban.
  • Tantangan yang kedua adalah, ketrampilan pengasuhan. Karena kita sebagai ornga tua tidak pernah belajar secara khusus ilmu parenting sebelum menjadi org tua. –> Kita bisa belajar belajar dari banyak materi yg bisa kita dapatkan dari buku-buku parenting, internet dll, yg bisa meningkatkan kapasitas kita dalam pola pengasuhan anak. Misalnya belajar/bergabung dengan berbagai komunitas parenting, seperti AIMI, Gerakan Ibu Profesional dll, yang bisa kita temui saat ini dengan mudah.
  • Manajemen keseharian, krn sudah sibuk dengan kegiatan rumah tangga, terutama untuk ibu rmh tangga, memasak, mencuci, dll ..sekarang mau ditambah lagi dengan urusan pendidikan anak-anak.  Mba Lala, sebagai salah satu penggagas Rumah Inspirasi, mempunyai 3 anak, di rumah yang luamayan besar & tanpa pembantu. Justru dengan tdk adanya ART keluarga mba Lala memilih utk melihatnya sebagai berkah,  sebagai wadah untuk proses belajar bagi anak-anak, anak belajar untuk terlibat, bekerja bersama & saling menolong, dalam proses keseharian.
  • Tantangan Lingkungan, pertanyaan-pertanyaan orang-orang tentang bagaimana sosialisasinya, masa depannya dll.
  • Kesibukan orang tua, kesibukan ibu rumah tangga, ayah yg bekerja atau bahkan ibu juga bekerja. –> Yang perlu diingat adalah ide dasar dari HS, adalah QUALITY TIME, waktu yang berkualitas. Misalnya ketika bersama anak, jangan hanya hadir secara fisik tetapi benar-benar BERSAMA, minimal lepaskan gadget ketika berinteraksi dengan anak.

IV. MENYEDERHANAKAN HOME SCHOOLING

Begitu banyaknya gagasan dalam bagaimana mendidik anak di usia dini, begitu banyak kurikulum  preschool, maka dalam HS yang paling penting adalah MENYEDERHANAKAN proses parenting & gagasan2, yang ada di dalam keseharian bersama dengan anak.

Apakah ‘menyederhanakan’  yang dimaksud? Inilah hal-hal yang paling penting dalam proses HS anak usia dini.

–          Yang penting  Anak sehat

–          Yang penting  Anak bahagia

–          Yang penting  Anak siap menjelajah dunia

  • ANAK SEHAT : dibangun secara fisik, makanan sehat, pola tidur, kegiatan fisik yang beragam, tidak hanya di depan TV, misalnya setiap pagi berkomitmen untuk jalan pagi bersama, olah raga ringan.
  • ANAK BAHAGIA : dalam buku “Brain Rules for Baby” by, John Medina, menyebutkan bahwa sebenarnya otak bayi itu hanya akan bisa belajar jika ia merasa ‘AMAN’. Ketika anak masih bayi, ketika anak masih sedang bertumbuh jaringan syarafnya, maka hal pertama yang tumbuh dalam jaringan otaknya adalah ‘otak batang’ atau biasa disebut ‘otak reptil’. Bagian otak ini adalah otak yang mengendalikan ‘survival’, nilai-nilainya adalh ‘keamanan’, oleh krn itu penting bagi para org tua, utk membuat kenyamanan anak sebagai hal yg paling mendasar. Anak tidak akan tumbuh dengan optimal perkembangan otaknya kalau dia tidak merasa ‘aman’. Misalnya, ketika masih bayi, kita tidak berbicara keras-keras/teriak, segera merespon jika ia menangis, pastikan kita selalu ada memberikan rasa aman & nyaman bagi anak, memberikan kata-kata baik & menyenangkan. Anak yang merasa tenang & nyaman, maka dia akan bertumbuh. Ketika ia melakukan kesalahan & tidakcepat-cepat dimarahi, maka itu akan membuat anak bernai mencoba, berani melakukan hal-hal yg kreatif, tumbuh inisiatifnya dll.

Hal sederhana lain yang bisa dilakukan untuk membuat anak bahagia, adalah kita perlu berhati-hati dalam berinvestasi dengan banyaknya ragam bahan-bahan/materi edukasi yang saat ini banyak sekali di pasaran. 

Misalnya, jika kita membeli sebuah produk edukasi yang berharga mahal, & ternyata ketika anak-anak tidak menyukainya, maka kita sbg org tua mudah utk terpancing emosi. Maka disini mulai ada pergeseran pertimbangan,bukan lagi untuk/demi anak tetapi demi kita org tuanya yg  merasa sayangnya krn sudah menengeluarkan uang/investasi yg besar.

Itu sebabnya kita perlu berhati-hati dalam berinvestasi, krn yang terpenting adalah anak-anak meyukainya. Sebenarnya bagi anak-anak mainan yang paling penting & menyenangkan adalah orang tuanya,bapak ibunya,  bermain, bercanda, berguling-guling, berlari-lari bersama orang tuanya membuat anak-anak tumbuh optimal, baik fisik maupun psikisnya.

V. PERTANYAAN TENTANG SOSIALISASI

Bagaimana mengajarkan sosialisasi pada anak-anak HS.

  • –          Apakah anak HS terkurung dlm rumah, sehingga membuat jadi kuper. àAnak HS seperti layaknya anak-anak yang lain, mereka tetap diekspos untuk bermain, tetapi yang membedakan adalah bermain seperti apa.
  • –          Apakah sih sebenernya ‘sosialisasi’ itu, apa yang dibutuhkan atau yang menjadi tujuan dari sosialisasi

–           Sosialisasi ditujukan untuk penanaman nilai/value, tentang kejujuran , kebenaran, etika dll .. dari mana anak menyerap nilai-nilai tersebut , pertanyaannya adalah mana yg lebih baik, anak menyerap nilai-nilai itu dari keluarga/orang tua atau dari teman sebaya. Jawabannya pasti kita lebih memilih dari orang tua.

–          Yang kedua yang menjadi tujuan dari sosialisi adalah, membangun ketrampilan social, dalam hal ini ketrampilan berkomunikasi, berbicara, mengutarakan pendapat, bertanya, merespon orang lain, berkelompok, bagaimana memilih kata-kata yg tepat dalam berkomunikasi. Nah,  seperti juga diatas, mana yang lebih baik untuk mempelajari itu semua, dari teman sebaya atau dari keluarga.

–          Pergaulan teman sebaya, apakah ini dibutuhkan? Jawabannya ‘YA’. Tetapi sebenarnya kebutuhannya tidak seperti yang kita anggap selama ini.

Bahkan mrt seorang pakar,mengungkapkan pendapatnya yang mungkin dirasa sedikit ekstrim,   Dr. Raymond Moore,

“ gagasan bahwa anak-anak perlu ada bersama anak-anak seumur ketika mereka masih kecil (bayi, toddler, balita), adlah sebuah mitos yang berbahaya. Karena pada kenyataan bukan seperti itu kebutuhan anak-anak. Ketika anak-anak merasa mapan secara value, terbangun ketrampilan sosialnya bersama org tua, maka ketika pada masanya ia mulai ‘keluar’, mulai menjelajah dunia, maka anak-anak ini menjadi ‘lebih siap’, mengapa? Karena bekal valuenya sudah siap, anak sudah merasa nyaman & aman, dia sudah punya ‘home’, tempat dia kembali, tempat dia merasa aman, maka dunia luar itu adalh utk bersenang-senang.”

lanjut ke PART II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s